ANALISIS USAHA NELAYAN DENGAN MULTIGEAR JARING CUMI DAN PANCING DI PPI BAJOMULYO JUWANA, PATI
Anggraeni Apriyanti1, Ismail2 dan Sardiyatmo2
anggraeniapriyanti24@gmail.com
ABSTRAK
Produksi perikanan pada sektor penangkapan ikan di Indonesia sebagian besar berasal dari usaha penangkapan berskala kecil atau tradisional dengan menggunakan perahu kecil sehingga jangkauan daerah penangkapannya terbatas dan hasil tangkapannya relatif sedikit. Kabupaten Pati merupakan sebuah Kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Tengah, dimana wilayahnya berbatasan dengan laut dan mengandalkan hasil perikanan. Jaring cumi termasuk salah satu alat tangkap yang terdapat di Kecamatan Juwana, dengan potensi penangkapan ekonomis penting. Alat tangkap ini diklasifikasikan kedalam alat tangkap cast net (jala) yang dioperasikan dengan cara dinaikkan atau di tarik ke atas untuk menangkap ikan. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung tingkat kelayakan usaha penangkapan jaring cumi di PPI Bajomulyo, mengetahui tingkat pendapatan nelayan jaring cumi di PPI Bajomulyo dan mengetahui sistem bagi hasil yang diterapkan pada unit usaha penangkapan dengan alat tangkap jaring cumi di PPI Bajomulyo. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan sifat studi kasus, yaitu studi dengan memusatkan perhatian pada suatu kasus secara intensif dan mendetail. Studi ini untuk menganalisis tingkat kelayakan usaha dan pendapatan nelayan jaring cumi. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi ke lapangan. Materi yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah unit usaha penangkapan multigear dengan jaring cumi dan pancing yang meliputi unit usaha yang berada di wilayah PPI Bajomulyo Juwana, Pati dan unit usaha tersebut masih aktif melakukan usaha penangkapannya. Penelitian ini mengamati analisa kelayakan usaha penangkapan jaring cumi di PPI Bajomulyo, pendapatan yang diperoleh nelayan pada usaha penangkapan jaring cumi per tahun dan sistem bagi hasil yang diterapkan pada usaha penangkapan jaring cumi di PPI Bajomulyo. Analisa kelayakan usaha menunjukkan bahwa usaha penangkapan jaring cumi di PPI Bajomulyo masih layak diusahakan dengan nilai NPV rata-rata sebesar Rp. 336.085.593,2, nilai B/C R rata-rata sebesar 1,236, sedangkan IRR rata-rata sebesar 47,98 % dan nilai PP rata-rata adalah selama 2 tahun 6 bulan, pendapatan yang diperoleh nelayan pada usaha penangkapan jaring cumi per tahun berkisar antara Rp. 312.000.000 – Rp. 448.000.000 dengan rata-rata sebesar Rp. 351.200.000 dan sistem bagi hasil yang diterapkan pada usaha penangkapan jaring cumi di PPI Bajomulyo adalah 50% untuk pemilik kapal dan 50% untuk seluruh anak buah kapal (ABK) termasuk nahkoda.
Kata-kata Kunci: Jaring Cumi, Analisis kelayakan usaha, PPI Bajomulyo Juwana Pati
1Mahasiswa PSP FPIK Undip
2Staf Pengajar PSP FPIK Undip
EFFORT ANALYSIS OF FISHERMAN WITH MULTIGEAR JARING CUMI AND FISHING ROD IN PPI BAJOMULYO JUWANA, PATI
Anggraeni Apriyanti1, Ismail 2 and Sardiyatmo 2
Anggraeniapriyanti24@gmail.com
ABSTRACT
Fishery product at fish catching sector in Indonesia mostly coming from small catching scale or traditional effort by using small boat so the reach catch area is limited and have a few hauling product. Pati is a Sub-Province which located in Central Java, the region limited on sea and rely on fishery product. Jaring cumi is include of the appliance catch in Juwana District, with the important potency economic catch. This appliance catch classified into cast net appliance operated by pulling up to catch the fish. This research aim to calculate elegibility storey level of Jaring cumi catch effort in PPI Bajomulyo, to know the earnings storey level of Jaring cumi fisherman in PPI Bajomulyo and to know the applied sharing holder system that use in catching business unit with Jaring cumi appliance catch in PPI Bajomulyo. The research method that used is descriptive method with case study, that is study by giving all mind to one particular case intensively and detail. This study to analyse elegibility storey level effort and the earnings of Jaring cumi fisherman. The collecting data conducted by observation to field. The items becoming object in this research is catch business unit of multigear with Jaring cumi and fishing rod that covering the business unit reside in region of PPI Bajomulyo Juwana, Pati and the business unit which do the catch effort still active. This research perceive analysis elegibility of Jaring cumi catch effort in PPI Bajomulyo, the earnings of Jaring cumi fisherman catch effort per years and the sharing holder system applied in PPI Bajomulyo. The effort analysis of elegibility indicate that the catch effort of Jaring cumi in PPI Bajomulyo still competent laboured with NPV mean value equal to Rp. 336.085.593,2, of B / CR mean value equal to 1,236, while IRR mean value equal to 47,98 % and PP mean value is during 2 year and 6 months, the earnings of Jaring cumi fisherman catch effort per year range from Rp. 312.000.000 - Rp. 448.000.000 with mean equal to Rp. 351.200.000 and the sharing holder system applied at Jaring cumi catch effort in PPI Bajomulyo is 50% for the ship owner and 50% to all crew including the skipper.
Key Words: Jaring cumi, Effort analysis of elegibility, PPI Bajomulyo Juwana Pati
1 Student of PSP FPIK Undip
2 Staff Instructor Of PSP FPIK Undip
Kamis, 18 Desember 2008
Jumat, 12 Desember 2008
Farah Elalfa Fauziah K2C004160
ANALISA USAHA PERIKANAN BUBU BAMBU DAN BUBU KAWAT
DI KEPULAUAN KARIMUNJAWA KABUPATEN JEPARA.
Farah Elalfa Fauziah1) Imam Triarso2) Pramonowibowo2)
ABSTRAK
Kepulauan Karimunjawa sebagian besar berupa gugusan pulau kecil yang dikelilingi lebih dari 63% terumbu karang sehingga mempunyai kekayaan biota laut, maka diperlukan suatu alat tangkap yang efisien, menguntungkan dari segi ekonomi, serta aman terhadap kondisi alamnya. Dari berbagai jenis alat tangkap yang dipergunakan oleh masyarakat nelayan di Kepulauan Karimunjawa, ada sebagian yang menggunakan alat tangkap bubu kawat dan bubu bambu. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian tentang tingkat kelayakan usaha dari kedua alat tangkap tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perbedaan penggunaan alat tangkap bubu bambu dan bubu kawat terhadap aspek teknis, aspek ekonomi dan tingkat kelayakan usaha.
Materi yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah unit usaha penangkapan bubu bambu dan bubu kawat. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif yang bersifat studi kasus dengan metode accidental random sampling, sedangkan pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode survey, observasi. Metode analisa yang digunakan pada aspek teknis yaitu analisa secara deskriptif dan aspek ekonomi dianalisa dengan melihat besarnya modal, biaya, pendapatan dan keuntungan. Serta aspek kelayakan usaha dengan menghitung Marginal Effeciency of Capital (MEC), Total Profit dan Payback Periode (PP). Penguji hipotesa dengan menggunakan independent sample T-Test.
Hasil penelitian didapatkan kesamaan pada aspek teknis dari bubu bambu dan bubu kawat yaitu cara operasi, daerah penangkapan maupun hasil tangkapannya. Hanya material pembuatannya yang membedakan antara keduanya. Berdasarkan dari aspek ekonomi dilihat dari modal, biaya dan pendapatan maka usaha bubu bambu lebih besar daripada bubu kawat. Namun demikian, dilihat dari keuntungan usaha bubu kawat lebih besar daripada bubu bambu. Berdasarkan analisa kelayakan dilihat dari nilai MEC, Total Profit dan Payback Periode maka usaha bubu bambu dan bubu kawat layak dijalankan dengan prioritas utama bubu kawat. Berdasarkan uji statistika disimpulkan terdapat perbedaan yang nyata tentang tingkat Payback Periode pada usaha bubu bambu dan bubu kawat. Sedangkan, nilai MEC dan Total Profit pada unit usaha bubu bambu dan usaha bubu kawat tidak ada perbedaan yang nyata.
Kata Kunci : Bubu Bambu, Bubu Kawat, marginal effeciency of capital (MEC), Total Profit dan Payback Periode (PP)
THE ANALYSIS OF BUBU BAMBU AND BUBU KAWAT FISHERY EXERTION
IN KARIMUNJAWA ISLANDS OF JEPARA REGENCY
Farah Elalfa Fauziah1) Imam Triarso2) Pramonowibowo2)
ABSTRACT
Most of Karimunjawa islands are groups of small islands which surrounded by more than 63% coral reef, which therefore it is rich of sea biota. By this reason, it needs an efficient catcher device which is economically profitable and saves to its natural condition. From the various types of a catcher device which is used by the fisherman society in Karimunjawa islands, there are some of the fishermen who use bubu kawat and bubu bambu catcher device. Therefore, a research about the proper exertion of the two devices is needed to conduct. The aim of this research is to know the influence of the different usage of the bubu kawat and bubu bambu catcher device to the technical aspects, economic aspects and proper exertion levels.
The material which is used in this research is the exertion unit of bubu kawat and bubu bambu catching devices. This research is conducted by using a descriptive method which its nature is as a case study using the accidental random sampling method, while the collecting data is conducting by using the survey and observation method. The analysis method which is used in the technical aspects is a descriptively analysis and in the economic aspects is analyzed by seeing the amount of capital, costs, income, and profit. And the proper exertion aspect is analyzed by calculating the Marginal Efficiency of Capital (MEC), total profit, and Payback Period (PP). The hypothesis examination is conducted by using the independent sample T-Test.
The result of this research shows that there is a similarity in the technical aspects of the bubu kawat and bubu bambu, which is about how they are operated, the catcher area, and the catcher result. There is only the material which differing. Based on the economic aspects which seen from capital, cost and income, hence effort for bigger bubu bambu than bubu kawat. However, seen from advantage of effort for bigger bubu kawat than bubu bambu. Based on elegibility analysis seen from value MEC, Total Profit and Payback Periode hence effort for bubu bambu and bubu kawat it is good to is implemented with main priority of bubu kawat. Based on statistician test is concluded [by] there is a marked difference about level of Payback Periode at effort for bubu bambu and bubu kawat. While, value MEC and Total Profit at bubu bambu business unit and effort for bubu kawat there is no a marked difference.
Key Words: Bubu Bambu, Bubu Kawat, Marginal Efficiency of Capital (MEC), Total Profit and Payback Period (PP)
DI KEPULAUAN KARIMUNJAWA KABUPATEN JEPARA.
Farah Elalfa Fauziah1) Imam Triarso2) Pramonowibowo2)
ABSTRAK
Kepulauan Karimunjawa sebagian besar berupa gugusan pulau kecil yang dikelilingi lebih dari 63% terumbu karang sehingga mempunyai kekayaan biota laut, maka diperlukan suatu alat tangkap yang efisien, menguntungkan dari segi ekonomi, serta aman terhadap kondisi alamnya. Dari berbagai jenis alat tangkap yang dipergunakan oleh masyarakat nelayan di Kepulauan Karimunjawa, ada sebagian yang menggunakan alat tangkap bubu kawat dan bubu bambu. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian tentang tingkat kelayakan usaha dari kedua alat tangkap tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perbedaan penggunaan alat tangkap bubu bambu dan bubu kawat terhadap aspek teknis, aspek ekonomi dan tingkat kelayakan usaha.
Materi yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah unit usaha penangkapan bubu bambu dan bubu kawat. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif yang bersifat studi kasus dengan metode accidental random sampling, sedangkan pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode survey, observasi. Metode analisa yang digunakan pada aspek teknis yaitu analisa secara deskriptif dan aspek ekonomi dianalisa dengan melihat besarnya modal, biaya, pendapatan dan keuntungan. Serta aspek kelayakan usaha dengan menghitung Marginal Effeciency of Capital (MEC), Total Profit dan Payback Periode (PP). Penguji hipotesa dengan menggunakan independent sample T-Test.
Hasil penelitian didapatkan kesamaan pada aspek teknis dari bubu bambu dan bubu kawat yaitu cara operasi, daerah penangkapan maupun hasil tangkapannya. Hanya material pembuatannya yang membedakan antara keduanya. Berdasarkan dari aspek ekonomi dilihat dari modal, biaya dan pendapatan maka usaha bubu bambu lebih besar daripada bubu kawat. Namun demikian, dilihat dari keuntungan usaha bubu kawat lebih besar daripada bubu bambu. Berdasarkan analisa kelayakan dilihat dari nilai MEC, Total Profit dan Payback Periode maka usaha bubu bambu dan bubu kawat layak dijalankan dengan prioritas utama bubu kawat. Berdasarkan uji statistika disimpulkan terdapat perbedaan yang nyata tentang tingkat Payback Periode pada usaha bubu bambu dan bubu kawat. Sedangkan, nilai MEC dan Total Profit pada unit usaha bubu bambu dan usaha bubu kawat tidak ada perbedaan yang nyata.
Kata Kunci : Bubu Bambu, Bubu Kawat, marginal effeciency of capital (MEC), Total Profit dan Payback Periode (PP)
THE ANALYSIS OF BUBU BAMBU AND BUBU KAWAT FISHERY EXERTION
IN KARIMUNJAWA ISLANDS OF JEPARA REGENCY
Farah Elalfa Fauziah1) Imam Triarso2) Pramonowibowo2)
ABSTRACT
Most of Karimunjawa islands are groups of small islands which surrounded by more than 63% coral reef, which therefore it is rich of sea biota. By this reason, it needs an efficient catcher device which is economically profitable and saves to its natural condition. From the various types of a catcher device which is used by the fisherman society in Karimunjawa islands, there are some of the fishermen who use bubu kawat and bubu bambu catcher device. Therefore, a research about the proper exertion of the two devices is needed to conduct. The aim of this research is to know the influence of the different usage of the bubu kawat and bubu bambu catcher device to the technical aspects, economic aspects and proper exertion levels.
The material which is used in this research is the exertion unit of bubu kawat and bubu bambu catching devices. This research is conducted by using a descriptive method which its nature is as a case study using the accidental random sampling method, while the collecting data is conducting by using the survey and observation method. The analysis method which is used in the technical aspects is a descriptively analysis and in the economic aspects is analyzed by seeing the amount of capital, costs, income, and profit. And the proper exertion aspect is analyzed by calculating the Marginal Efficiency of Capital (MEC), total profit, and Payback Period (PP). The hypothesis examination is conducted by using the independent sample T-Test.
The result of this research shows that there is a similarity in the technical aspects of the bubu kawat and bubu bambu, which is about how they are operated, the catcher area, and the catcher result. There is only the material which differing. Based on the economic aspects which seen from capital, cost and income, hence effort for bigger bubu bambu than bubu kawat. However, seen from advantage of effort for bigger bubu kawat than bubu bambu. Based on elegibility analysis seen from value MEC, Total Profit and Payback Periode hence effort for bubu bambu and bubu kawat it is good to is implemented with main priority of bubu kawat. Based on statistician test is concluded [by] there is a marked difference about level of Payback Periode at effort for bubu bambu and bubu kawat. While, value MEC and Total Profit at bubu bambu business unit and effort for bubu kawat there is no a marked difference.
Key Words: Bubu Bambu, Bubu Kawat, Marginal Efficiency of Capital (MEC), Total Profit and Payback Period (PP)
LIDUATI NABABAN K2C004171
Analisys Optimalized of Fishing Business (a study case)
PT. Perikanan Nusantara Branch Benoa Bali
Liduati Nababan 1), Herry Boesono 2) dan Ismail2)
SUMMARY
PT. Perikanan Nusantara Branch Benoa Bali is the pioneer of thunus fishing business with fishing gear long line in the year 1972. PT. Perikanan Nusantara was established on 27th October 2005. This company is the union of four BUMN (Badan Usaha Milik Negara). They are PT. Usaha Mina (Persero), PT. Tirta Raya Mina (Persero), PT. Perikani (Persero)n and PT. Samodra Besar (Persero). The unity of those companies due to the companies were suffering loss.
The aim of this research is to know the combination of fishing vessel to achieve maximum profit that should have be achieved in the year 2007, and to know the usage of production factors (quantity of crew, operation day, quantity of production, dan operation cost) that still remain or already over the capacity.
Methode applied in this research is survey descriptive methode with study case. Case as an object of the research is optimalized long line fishing business at PT. Perikanan Nusantara Branch Benoa Bali to achieve maximum profit in the year 2007. Analysis methode applied in this research is linear program by using QSB+ (Quantitative System for Business Plus).
Result from optimalized long line fishing at PT. Perikanan Nusantara Branch Benoa Bali in the year 2007 show that maximum profit that should have be achieved amounting to Rp 1,407,950,000.00 by combining three units of fishing vessel 15 GT, eight units of fishing vessel 40 GT, and six units of fishing vessel 60 GT. The remain capacity of production factor for the quantity of crew is 50 people, with operating day in 104 day, and operation budget amounting to Rp356,524,100.00.
The usage of limitation factor that capacity still remain is quantity of crew 25%, for operation day 32%, and operation budget 27%. By using linear program analysis with QSB+ (Quantitative System for Business Plus), profit level of thunus long line fishing business at PT. Perikanan Nusantara Branch Benoa Bali in the year 2007 increased 69%. The profit increasing as the result of optimalized was gaining by reducing two units of fishing vessel 40GT.
Key word : Optimalized, Profit, Combination
Ringkasan
PT. Perikanan Nusantara cabang Benoa (Bali) merupakan perusahaan perintis usaha penangkapan tuna dengan alat tangkap long line pada tahun 1972. PT. Perikanan Nusantara terbentuk pada tanggal 27 Oktober 2005. Perusahaan ini merupakan hasil penggabungan dari empat BUMN yaitu PT. Usaha Mina (Persero), PT. Tirta Raya Mina (Persero), PT. Perikani (Persero) dan PT. Perikanan Samodra Besar (Persero). Penggabungan perusahaan ini disebabkan karena perusahaan terus mengalami kerugian.
Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui kombinasi pengoperasian kapal untuk mencapai keuntungan maksimum yang seharusnya dapat diperoleh perusahaan pada tahun 2007, dan mengetahui penggunaan faktor-faktor produksi (jumlah ABK, hari operasi, jumlah produksi dan biaya operasi) yang masih terdapat sisa atau yang sudah melebihi dari kapasitas.
Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu penelitian deskriptif survei yang bersifat studi kasus. Kasus yang menjadi obyek penelitian yaitu optimalisasi usaha penangkapan tuna long line PT. Perikanan Nusantara Cabang Benoa, Bali untuk mencapai keuntungan maksimum pada tahun 2007. Metode analisis yang digunakan yaitu program linier dengan menggunakan QSB+ (Quantitative System for Business Plus).
Dari hasil analisis optimalisasi usaha penangkapan tuna long line milik PT. Perikanan Nusantara (Persero) Cabang Benoa pada tahun 2007 diperoleh bahwa keuntungan maksimum yang seharusnya dapat dicapai yaitu sebesar Rp1.407.950.000 dengan mengkombinasikan pengoperasian kapal 15 GT sebanyak 3 unit, kapal 40 GT sebanyak 8 unit dan kapal 60 GT sebanyak 6 unit. Sisa kapasitas faktor produksi yang masih ada yaitu jumlah ABK sebesar 50 orang, hari operasi sebesar 104 hari dan anggaran operasi sebesar Rp 356.524.100.
Penggunaan faktor pembatas yang masih terdapat sisa kapasitas yaitu jumlah ABK, hari operasi dan jumlah produksi. Besarnya sisa kapasitas yaitu untuk jumlah ABK 25% , untuk hari operasi 32% dan untuk biaya operasi 27%. Dengan menggunakan analisis program linier dengan QSB+ (Quantitative System for Business Plus), tingkat keuntungan dari usaha penangkapan tuna long line milik PT. Perikanan Nusantara (Persero) Cabang Benoa Bali pada tahun 2007 meningkat 69 %. Peningkatan keuntungan hasil optimalisasi diperoleh dengan mengurangi pengoperasian kapal 40 GT sebanyak 2 unit kapal.
Kata kunci : Optimalisasi, Keuntungan, Kombinasi
1) Mahasiswa PS PSP Undip (Liduati_nababan@yahoo.com)
Staf pengajar FPIK Undip
PT. Perikanan Nusantara Branch Benoa Bali
Liduati Nababan 1), Herry Boesono 2) dan Ismail2)
SUMMARY
PT. Perikanan Nusantara Branch Benoa Bali is the pioneer of thunus fishing business with fishing gear long line in the year 1972. PT. Perikanan Nusantara was established on 27th October 2005. This company is the union of four BUMN (Badan Usaha Milik Negara). They are PT. Usaha Mina (Persero), PT. Tirta Raya Mina (Persero), PT. Perikani (Persero)n and PT. Samodra Besar (Persero). The unity of those companies due to the companies were suffering loss.
The aim of this research is to know the combination of fishing vessel to achieve maximum profit that should have be achieved in the year 2007, and to know the usage of production factors (quantity of crew, operation day, quantity of production, dan operation cost) that still remain or already over the capacity.
Methode applied in this research is survey descriptive methode with study case. Case as an object of the research is optimalized long line fishing business at PT. Perikanan Nusantara Branch Benoa Bali to achieve maximum profit in the year 2007. Analysis methode applied in this research is linear program by using QSB+ (Quantitative System for Business Plus).
Result from optimalized long line fishing at PT. Perikanan Nusantara Branch Benoa Bali in the year 2007 show that maximum profit that should have be achieved amounting to Rp 1,407,950,000.00 by combining three units of fishing vessel 15 GT, eight units of fishing vessel 40 GT, and six units of fishing vessel 60 GT. The remain capacity of production factor for the quantity of crew is 50 people, with operating day in 104 day, and operation budget amounting to Rp356,524,100.00.
The usage of limitation factor that capacity still remain is quantity of crew 25%, for operation day 32%, and operation budget 27%. By using linear program analysis with QSB+ (Quantitative System for Business Plus), profit level of thunus long line fishing business at PT. Perikanan Nusantara Branch Benoa Bali in the year 2007 increased 69%. The profit increasing as the result of optimalized was gaining by reducing two units of fishing vessel 40GT.
Key word : Optimalized, Profit, Combination
Ringkasan
PT. Perikanan Nusantara cabang Benoa (Bali) merupakan perusahaan perintis usaha penangkapan tuna dengan alat tangkap long line pada tahun 1972. PT. Perikanan Nusantara terbentuk pada tanggal 27 Oktober 2005. Perusahaan ini merupakan hasil penggabungan dari empat BUMN yaitu PT. Usaha Mina (Persero), PT. Tirta Raya Mina (Persero), PT. Perikani (Persero) dan PT. Perikanan Samodra Besar (Persero). Penggabungan perusahaan ini disebabkan karena perusahaan terus mengalami kerugian.
Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui kombinasi pengoperasian kapal untuk mencapai keuntungan maksimum yang seharusnya dapat diperoleh perusahaan pada tahun 2007, dan mengetahui penggunaan faktor-faktor produksi (jumlah ABK, hari operasi, jumlah produksi dan biaya operasi) yang masih terdapat sisa atau yang sudah melebihi dari kapasitas.
Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu penelitian deskriptif survei yang bersifat studi kasus. Kasus yang menjadi obyek penelitian yaitu optimalisasi usaha penangkapan tuna long line PT. Perikanan Nusantara Cabang Benoa, Bali untuk mencapai keuntungan maksimum pada tahun 2007. Metode analisis yang digunakan yaitu program linier dengan menggunakan QSB+ (Quantitative System for Business Plus).
Dari hasil analisis optimalisasi usaha penangkapan tuna long line milik PT. Perikanan Nusantara (Persero) Cabang Benoa pada tahun 2007 diperoleh bahwa keuntungan maksimum yang seharusnya dapat dicapai yaitu sebesar Rp1.407.950.000 dengan mengkombinasikan pengoperasian kapal 15 GT sebanyak 3 unit, kapal 40 GT sebanyak 8 unit dan kapal 60 GT sebanyak 6 unit. Sisa kapasitas faktor produksi yang masih ada yaitu jumlah ABK sebesar 50 orang, hari operasi sebesar 104 hari dan anggaran operasi sebesar Rp 356.524.100.
Penggunaan faktor pembatas yang masih terdapat sisa kapasitas yaitu jumlah ABK, hari operasi dan jumlah produksi. Besarnya sisa kapasitas yaitu untuk jumlah ABK 25% , untuk hari operasi 32% dan untuk biaya operasi 27%. Dengan menggunakan analisis program linier dengan QSB+ (Quantitative System for Business Plus), tingkat keuntungan dari usaha penangkapan tuna long line milik PT. Perikanan Nusantara (Persero) Cabang Benoa Bali pada tahun 2007 meningkat 69 %. Peningkatan keuntungan hasil optimalisasi diperoleh dengan mengurangi pengoperasian kapal 40 GT sebanyak 2 unit kapal.
Kata kunci : Optimalisasi, Keuntungan, Kombinasi
1) Mahasiswa PS PSP Undip (Liduati_nababan@yahoo.com)
Staf pengajar FPIK Undip
Rabu, 12 November 2008
Arya Tri Apriliawan K2C004144
PENGGUNAAN BUBU BUTON BERPENUTUP SEBAGAI SHELTER
PADA HABITAT YANG BERBEDA DI PERAIRAN PULAU SERUNI KARIMUNJAWA
Arya Tri Apriliawan1), Asriyanto2) dan Pramonowibowo2)
ABSTRAK
Pulau Seruni merupakan salah satu dari 27 pulau di kepulauan Karimunjawa. Sumberdaya ikan karang di perairan tersebut dimanfaatkan rata-rata sebesar 3 kg/bubu setiap 2 hari. Bubu jenis alat perangkap yang pasif dan selektif di dasar perairan. Karena bersifat pasif maka ada jenis bubu yang menggunakan penutup berupa karang sebagai kamuflase untuk tempat berlindung. Alternatif yang digunakan sebagai pengganti karang dapat berupa anyaman daun kelapa (welit) dan bunga kelapa (manggar). Bubu Buton dapat dioperasikan pada habitat lamun dan karang yang mempunyai produktifitas yang sangat tinggi. Penelitian ini dilaksanakan di Pulau Seruni. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui pengaruh perbedaan penggunaan penutup, habitat, dan ada tidaknya pengaruh interaksi antara faktor penutup dan habitat yang digunakan terhadap jumlah hasil tangkapan bubu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental. Metode eksperimental dengan menggunakan 6 perlakuan dan 14 kali ulangan. Metode pengumpulan data yang digunakan antara lain metode observasi langsung, wawancara, studi pustaka, dan dokumentasi. Sedangkan analisis data yang digunakan adalah ANOVA dengan Percobaan Faktorial, uji wilayah ganda Duncan, dan indeks keanekaragaman Shanon Weiner . Dari hasil analisis ANOVA didapatkan Fhitung penutup = 9,7 > Ftabel (5% dan 1%) sehingga penggunaan perbedaan penutup menunjukkan hasil tangkapan bubu Buton yang sangat berbeda nyata. Kemudian nilai Fhitung habitat = 1,5 < Ftabel (5% dan 1%) sehingga pengoperasian bubu Buton pada habitat yang berbeda menunjukkan hasil tangkapan bubu Buton yang tidak berbeda nyata, dan dari perhitungan nilai Fhitung interaksi= 3,558 > Ftabel (5%) dan Fhitung < Ftabel (1%) sehingga terdapat interaksi dari kedua faktor tersebut. Dari 6 perlakuan yang memberikan hasil terbaik adalah pengoperasikan bubu Buton menggunakan penutup manggar pada habitat karang dengan jumlah hasil tangkapan sebanyak 38 ekor. Sehingga penutup dengan menggunakan manggar kelapa yang dioperasikan di habitat karang dapat dijadikan alternatif penutup sebagai pengganti karang.
Kata-kata kunci : Bubu Buton, penutup, habitat
ABSTRACT
Seruni island is one of 27 islands in Karimunjawa archipelago. The utilized resources of coral fish in seruni island waters are average amount 3 kilograms each pot for 2 days. Pot is a passive and selective fishing gear. Because it is a passive, so pot usages coral covered as camouflage for shelter. Another alternative substitute of coral as a plaited coconut leaves (welit) and a coconut flower (manggar). Buton pot operated on sea grass and coral habitat that have hight productivity. The research executed in Seruni island.The objectives of research were to find out influence difference usage covered, habitat, and to find out the interaction of covered and habitat usage for total catch of buton pot. The research method was an experimental method. This experimental method used 6 treatments and 14 replicates. The data collecting methods were direct observation, interview, literature study methods, and documentation methods, mean while, the data analysis methods were ANOVA with factorial designed, Duncan’s new multiple range test followed by diversity index Shanon Weiner.. From the data analysis on ANOVA was Fratio covered (9,7) > Ftable (5% and 1%). In other words, difference usage of covered showed significantly different on total cacth of Buton pot, and than Fratio habitat (1,5) < Ftable (5% and 1%) with the result that difference usage of habitat showed not significantly different, and from calculation Fratio of interaction covered and habitat (3,558) > Ftable (5%) indicate that there obtained interactions. From 6 treatments gave a good results was operated buton pot usages manggar covered on coral habitat as much as 38 tails, thus, usage manggar covered on coral habitat can be alternative covered as substitute for coral.
1) Mahasiswa PSP FPIK Undip (e-mail : arya_ithinks@ yahoo.com)
2) Staf Pengajar Jurusan Perikanan PS PSP FPIK Undip
Keywords : Buton pot, covered, habitat1
PADA HABITAT YANG BERBEDA DI PERAIRAN PULAU SERUNI KARIMUNJAWA
Arya Tri Apriliawan1), Asriyanto2) dan Pramonowibowo2)
ABSTRAK
Pulau Seruni merupakan salah satu dari 27 pulau di kepulauan Karimunjawa. Sumberdaya ikan karang di perairan tersebut dimanfaatkan rata-rata sebesar 3 kg/bubu setiap 2 hari. Bubu jenis alat perangkap yang pasif dan selektif di dasar perairan. Karena bersifat pasif maka ada jenis bubu yang menggunakan penutup berupa karang sebagai kamuflase untuk tempat berlindung. Alternatif yang digunakan sebagai pengganti karang dapat berupa anyaman daun kelapa (welit) dan bunga kelapa (manggar). Bubu Buton dapat dioperasikan pada habitat lamun dan karang yang mempunyai produktifitas yang sangat tinggi. Penelitian ini dilaksanakan di Pulau Seruni. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui pengaruh perbedaan penggunaan penutup, habitat, dan ada tidaknya pengaruh interaksi antara faktor penutup dan habitat yang digunakan terhadap jumlah hasil tangkapan bubu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental. Metode eksperimental dengan menggunakan 6 perlakuan dan 14 kali ulangan. Metode pengumpulan data yang digunakan antara lain metode observasi langsung, wawancara, studi pustaka, dan dokumentasi. Sedangkan analisis data yang digunakan adalah ANOVA dengan Percobaan Faktorial, uji wilayah ganda Duncan, dan indeks keanekaragaman Shanon Weiner . Dari hasil analisis ANOVA didapatkan Fhitung penutup = 9,7 > Ftabel (5% dan 1%) sehingga penggunaan perbedaan penutup menunjukkan hasil tangkapan bubu Buton yang sangat berbeda nyata. Kemudian nilai Fhitung habitat = 1,5 < Ftabel (5% dan 1%) sehingga pengoperasian bubu Buton pada habitat yang berbeda menunjukkan hasil tangkapan bubu Buton yang tidak berbeda nyata, dan dari perhitungan nilai Fhitung interaksi= 3,558 > Ftabel (5%) dan Fhitung < Ftabel (1%) sehingga terdapat interaksi dari kedua faktor tersebut. Dari 6 perlakuan yang memberikan hasil terbaik adalah pengoperasikan bubu Buton menggunakan penutup manggar pada habitat karang dengan jumlah hasil tangkapan sebanyak 38 ekor. Sehingga penutup dengan menggunakan manggar kelapa yang dioperasikan di habitat karang dapat dijadikan alternatif penutup sebagai pengganti karang.
Kata-kata kunci : Bubu Buton, penutup, habitat
ABSTRACT
Seruni island is one of 27 islands in Karimunjawa archipelago. The utilized resources of coral fish in seruni island waters are average amount 3 kilograms each pot for 2 days. Pot is a passive and selective fishing gear. Because it is a passive, so pot usages coral covered as camouflage for shelter. Another alternative substitute of coral as a plaited coconut leaves (welit) and a coconut flower (manggar). Buton pot operated on sea grass and coral habitat that have hight productivity. The research executed in Seruni island.The objectives of research were to find out influence difference usage covered, habitat, and to find out the interaction of covered and habitat usage for total catch of buton pot. The research method was an experimental method. This experimental method used 6 treatments and 14 replicates. The data collecting methods were direct observation, interview, literature study methods, and documentation methods, mean while, the data analysis methods were ANOVA with factorial designed, Duncan’s new multiple range test followed by diversity index Shanon Weiner.. From the data analysis on ANOVA was Fratio covered (9,7) > Ftable (5% and 1%). In other words, difference usage of covered showed significantly different on total cacth of Buton pot, and than Fratio habitat (1,5) < Ftable (5% and 1%) with the result that difference usage of habitat showed not significantly different, and from calculation Fratio of interaction covered and habitat (3,558) > Ftable (5%) indicate that there obtained interactions. From 6 treatments gave a good results was operated buton pot usages manggar covered on coral habitat as much as 38 tails, thus, usage manggar covered on coral habitat can be alternative covered as substitute for coral.
1) Mahasiswa PSP FPIK Undip (e-mail : arya_ithinks@ yahoo.com)
2) Staf Pengajar Jurusan Perikanan PS PSP FPIK Undip
Keywords : Buton pot, covered, habitat1
Anita Ratna Dewi Kusumawati K2C004139
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI VOLUME EKSPOR
BIG EYE TUNA (Thunnus obesus) KE JEPANG,
STUDI KASUS PT. PERIKANAN NUSANTARA, BENOA, BALI
Anita Ratna Dewi Kusumawati. K2C 004 139 *), Ismail **) dan Pramonowibowo **)
E-mail : mozilla_dec@yahoo.co.id
ABSTRAK
Sumberdaya ikan tuna khususnya big eye tuna (Thunnus obesus) cukup penting peranannya dalam perekonomian Indonesia yaitu merupakan penghasil devisa nomor dua setelah udang dari sub sektor perikanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi volume ekspor big eye tuna PT. Perikanan Nusantara cabang Benoa, Bali ke Jepang serta memprediksi volume ekspor di masa mendatang. Metode analisa data yang dipergunakan adalah analisa regresi ganda dan analisa time series untuk memprediksi volume ekspor di masa mendatang. Data yang digunakan yakni data primer yang merupakan data pelengkap dari hasil diskusi dan wawancara dengan para stakeholders di PT. Perikanan Nusantara serta data sekunder merupakan data dalam bentuk laporan tahunan. Hasil penelitian menujukkan bahwa perubahan peningkatan volume pejualan big eye tuna di pasaran lokal akan menurunkan volume ekspor big eye tuna 0,005 kg. Peningkatan volume ekspor yellowfin tuna 1 kg akan menurunkan volume ekspor big eye tuna 0,336 kg. Perubahan peningkatan harga ekspor yellowfin tuna dan big eye tuna sebesar 1 US $ akan meningkatkan volume ekspor big eye tuna masing-masing 0,298 kg dan 0,182 kg. Peningkatan harga small big eye tuna 1 US $ akan menurunkan volume ekspor big eye tuna 0,015 kg. Dalam 10 tahun kedepan tren volume ekspor big eye tuna dari PT. Perikanan Nusantara cabang Benoa Bali ke Jepang terus mengalami penurunan dengan fungsi Y = 70856.12251 - 945.6013431 X.
Kata kunci : Faktor pengaruh, volume ekspor, big eye tuna, tren
ABSTRACT
Tuna especially big eye tuna (Thunnus obesus) are in the second place after shrimp on export from fishery sub sector and completely important for Indonesian Gross National Product. Main data which is complement data were collected from discussion and interview with the stakeholders of PT. Perikanan Nusantara and second data in annual reports. The objective of the research was to find out the factors that affecting big eye tuna export volume in PT. Perikanan Nusantrara branch Benoa, Bali to Japan and also predicted the export volume in the future. Data analysis method used was multiple regression and the future export volume predicted by time serie analysis. The result show that the increases 1 kg of local big eye tuna would decreased big eye tuna export volume 0,005 kg. The increases 1 kg of yellowfin tuna would decreased big eye tuna export volume 0,33 kg. The increase 1 US $ of yellowfin tuna export value and big eye tuna export value would increased big eye tuna export volume each 0,298 kg and 0,182 kg. The increases 1US $ of small big eye tuna would decreased big eye tuna export volume 0,015 kg. The result also shows in the next ten years tendention of big eye tuna export volume will decrease with function Y = 70856.12251 - 945.6013431 X.
Key Word : Affecting factors, export volume, big eye tuna, trend
BIG EYE TUNA (Thunnus obesus) KE JEPANG,
STUDI KASUS PT. PERIKANAN NUSANTARA, BENOA, BALI
Anita Ratna Dewi Kusumawati. K2C 004 139 *), Ismail **) dan Pramonowibowo **)
E-mail : mozilla_dec@yahoo.co.id
ABSTRAK
Sumberdaya ikan tuna khususnya big eye tuna (Thunnus obesus) cukup penting peranannya dalam perekonomian Indonesia yaitu merupakan penghasil devisa nomor dua setelah udang dari sub sektor perikanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi volume ekspor big eye tuna PT. Perikanan Nusantara cabang Benoa, Bali ke Jepang serta memprediksi volume ekspor di masa mendatang. Metode analisa data yang dipergunakan adalah analisa regresi ganda dan analisa time series untuk memprediksi volume ekspor di masa mendatang. Data yang digunakan yakni data primer yang merupakan data pelengkap dari hasil diskusi dan wawancara dengan para stakeholders di PT. Perikanan Nusantara serta data sekunder merupakan data dalam bentuk laporan tahunan. Hasil penelitian menujukkan bahwa perubahan peningkatan volume pejualan big eye tuna di pasaran lokal akan menurunkan volume ekspor big eye tuna 0,005 kg. Peningkatan volume ekspor yellowfin tuna 1 kg akan menurunkan volume ekspor big eye tuna 0,336 kg. Perubahan peningkatan harga ekspor yellowfin tuna dan big eye tuna sebesar 1 US $ akan meningkatkan volume ekspor big eye tuna masing-masing 0,298 kg dan 0,182 kg. Peningkatan harga small big eye tuna 1 US $ akan menurunkan volume ekspor big eye tuna 0,015 kg. Dalam 10 tahun kedepan tren volume ekspor big eye tuna dari PT. Perikanan Nusantara cabang Benoa Bali ke Jepang terus mengalami penurunan dengan fungsi Y = 70856.12251 - 945.6013431 X.
Kata kunci : Faktor pengaruh, volume ekspor, big eye tuna, tren
ABSTRACT
Tuna especially big eye tuna (Thunnus obesus) are in the second place after shrimp on export from fishery sub sector and completely important for Indonesian Gross National Product. Main data which is complement data were collected from discussion and interview with the stakeholders of PT. Perikanan Nusantara and second data in annual reports. The objective of the research was to find out the factors that affecting big eye tuna export volume in PT. Perikanan Nusantrara branch Benoa, Bali to Japan and also predicted the export volume in the future. Data analysis method used was multiple regression and the future export volume predicted by time serie analysis. The result show that the increases 1 kg of local big eye tuna would decreased big eye tuna export volume 0,005 kg. The increases 1 kg of yellowfin tuna would decreased big eye tuna export volume 0,33 kg. The increase 1 US $ of yellowfin tuna export value and big eye tuna export value would increased big eye tuna export volume each 0,298 kg and 0,182 kg. The increases 1US $ of small big eye tuna would decreased big eye tuna export volume 0,015 kg. The result also shows in the next ten years tendention of big eye tuna export volume will decrease with function Y = 70856.12251 - 945.6013431 X.
Key Word : Affecting factors, export volume, big eye tuna, trend
Kamis, 23 Oktober 2008
ARIANDA KUSUMANINGRUM K2C004142
PENGARUH PENGGUNAAN LAMPU TERHADAP HASIL TANGKAPAN SERO PADA FASE BULAN GELAP DAN TERANG DI PERAIRAN INDRAMAYU,
JAWA BARAT
Arianda Kusumaningrum 1), Asriyanto2) dan Pramonowibowo3)
SUMMARY
Sub-Province Indramayu has potensial water territory for fishing with Sero. There are many sero operating in water territory Indramayu. The caracter of it’s operation is passive. Usually, sero is only be operated in light because operation in dark results haul amounts decrease. The alternatif of overcome problem is by applying usage lamp. Purpose of research is to know usage influence of lamp and phase month to haul amounts of sero.
Method applied in this research is experimental method. Experimental method is an isvestigation planned to obtain new fact or strengthen and also assists fact which there have before all. Research done at phase month of dark and light. Phase of dark is condition where moon is not seen in atmosphere so that water territory is not affected by moon beam, phase month of light in condition when moon seen in atmosphere so that water territory affected by moon beam. At phase month of light is done by 2 kinds of treatment, firstly is usage of lamp. Second is not usage of lamp. Dominant haul of sero made to parameter in this research. The parameter fish in research is consisstent by cumi-cumi (Lolligo sp), sotong (Sepia sp), kembung (Rastreliger sp) dan rajungan (Portunus pelagicus).
Results of research indicates that every treatment get number of different mean hauls. In dark, sero with lamp gets number of hauls 35.570 grams and sero operated without using lamp gets number of hauls 21.530 grams. In light,sero applies lamp get haul average of 20.460 grams, while sero without using the lamp gets haul 18.880 grams.
Threatment with used the lamp in dark gets more haul compared to treatment in light with very real different haul so that there is interaction in phase factor month and the lamp. Furthermore, cause increase of haul amounts significan or the lamp can be told have effect to haul so that there are at interaction in factor the lamp.
Key words : sero, lamp, phase month, haul.
RINGKASAN
Kabupaten Indramayu memiliki perairan yang potensial untuk usaha penangkapan sero. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya alat tangkap sero yang beroperasi di perairan Indramayu. Sero memiliki cara operasi yang bersifat pasif. Selama ini, sero hanya dioperasikan pada bulan terang karena pengoperasian pada bulan gelap mengakibatkan hasil tangkapan berkurang. Salah satu alternatif untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menerapkan penggunaan lampu. Tujuan dilakukan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh pengunaan lampu dan fase bulan terhadap jumlah hasil tangkapan.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian eksperimental. Metode eksperinmental adalah suatu penyelidikan yang terencana untuk memperoleh fakta baru atau untuk memperkuat maupun membantu fakta yang telah ada sebelumnya. Penelitian dilakukan pada fase bulan gelap dan terang. Fase bulan gelap adalah kondisi dimana bulan tidak tampak di atmosfir sehingga perairan terpengaruh oleh cahaya bulan. Pada fase bulan terang dilakukan 2 macam perlakuan, pertama penggunaan lampu dan yang kedua tidak menggunakan lampu. Hasil tangkapan sero yang dominan dijadikan parameter dalam penelitian. Ikan parameter tersebut terdiri dari : cumi-cumi (Lolligo sp), sotong (Sepia sp), kembung (Rastrelliger sp) dan rajungan (Portunus pelagicus).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap perlakuan mendapatkan jumlah hasil tangkapan yang berbeda. Pada bulan gelap, sero dengan lampu mendapatkan jumlah hasil tangkapan sebanyak 35,57 kg dan sero yang dioperasikan tanpa menggunakan lampu mendapat jumlah hasil tangkapan sebanyak 21,53 kg. Pada bulan terang, sero menggunakan lampu mendapatkan hasil tangkapan sebanyak 20,46 kg dan sero tanpa menggunakan lampu mendpatkan hasil tangkapan sebanyak 18,88 kg.
Perlakuan dengan menggunakan lampu pada bulan gelap mendapatkan hasil tangkapan yang lebih banyak dibnadingkan perlakuan pada bulan terang dengan hasil tangkapan yang berbeda sangat nyata sehingga terdapat interaksi dalam faktor bulan. Oleh karena itu, menyebabkan kenaikan jumlah hasil tangkapan yang sangat signifikan atau lampu dapat dikatakan berpengaruh terhadap hasil tangkapan sehingga terdapat interaksi pada penggunaan lampu terhadap hasil tangkapan.
Kata kunci : sero, lampu, fase bulan, hasil tangkapan.
1) Mahasiswa Perikanan PS PSP, email : ar3r3_tomoe@yahoo.co.id, CP : 08179517011
2) Staf Pengajar Jurusan Perikanan PS PSP
3) Staf Pengajar Jurusan Perikanan PS PSP
JAWA BARAT
Arianda Kusumaningrum 1), Asriyanto2) dan Pramonowibowo3)
SUMMARY
Sub-Province Indramayu has potensial water territory for fishing with Sero. There are many sero operating in water territory Indramayu. The caracter of it’s operation is passive. Usually, sero is only be operated in light because operation in dark results haul amounts decrease. The alternatif of overcome problem is by applying usage lamp. Purpose of research is to know usage influence of lamp and phase month to haul amounts of sero.
Method applied in this research is experimental method. Experimental method is an isvestigation planned to obtain new fact or strengthen and also assists fact which there have before all. Research done at phase month of dark and light. Phase of dark is condition where moon is not seen in atmosphere so that water territory is not affected by moon beam, phase month of light in condition when moon seen in atmosphere so that water territory affected by moon beam. At phase month of light is done by 2 kinds of treatment, firstly is usage of lamp. Second is not usage of lamp. Dominant haul of sero made to parameter in this research. The parameter fish in research is consisstent by cumi-cumi (Lolligo sp), sotong (Sepia sp), kembung (Rastreliger sp) dan rajungan (Portunus pelagicus).
Results of research indicates that every treatment get number of different mean hauls. In dark, sero with lamp gets number of hauls 35.570 grams and sero operated without using lamp gets number of hauls 21.530 grams. In light,sero applies lamp get haul average of 20.460 grams, while sero without using the lamp gets haul 18.880 grams.
Threatment with used the lamp in dark gets more haul compared to treatment in light with very real different haul so that there is interaction in phase factor month and the lamp. Furthermore, cause increase of haul amounts significan or the lamp can be told have effect to haul so that there are at interaction in factor the lamp.
Key words : sero, lamp, phase month, haul.
RINGKASAN
Kabupaten Indramayu memiliki perairan yang potensial untuk usaha penangkapan sero. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya alat tangkap sero yang beroperasi di perairan Indramayu. Sero memiliki cara operasi yang bersifat pasif. Selama ini, sero hanya dioperasikan pada bulan terang karena pengoperasian pada bulan gelap mengakibatkan hasil tangkapan berkurang. Salah satu alternatif untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menerapkan penggunaan lampu. Tujuan dilakukan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh pengunaan lampu dan fase bulan terhadap jumlah hasil tangkapan.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian eksperimental. Metode eksperinmental adalah suatu penyelidikan yang terencana untuk memperoleh fakta baru atau untuk memperkuat maupun membantu fakta yang telah ada sebelumnya. Penelitian dilakukan pada fase bulan gelap dan terang. Fase bulan gelap adalah kondisi dimana bulan tidak tampak di atmosfir sehingga perairan terpengaruh oleh cahaya bulan. Pada fase bulan terang dilakukan 2 macam perlakuan, pertama penggunaan lampu dan yang kedua tidak menggunakan lampu. Hasil tangkapan sero yang dominan dijadikan parameter dalam penelitian. Ikan parameter tersebut terdiri dari : cumi-cumi (Lolligo sp), sotong (Sepia sp), kembung (Rastrelliger sp) dan rajungan (Portunus pelagicus).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap perlakuan mendapatkan jumlah hasil tangkapan yang berbeda. Pada bulan gelap, sero dengan lampu mendapatkan jumlah hasil tangkapan sebanyak 35,57 kg dan sero yang dioperasikan tanpa menggunakan lampu mendapat jumlah hasil tangkapan sebanyak 21,53 kg. Pada bulan terang, sero menggunakan lampu mendapatkan hasil tangkapan sebanyak 20,46 kg dan sero tanpa menggunakan lampu mendpatkan hasil tangkapan sebanyak 18,88 kg.
Perlakuan dengan menggunakan lampu pada bulan gelap mendapatkan hasil tangkapan yang lebih banyak dibnadingkan perlakuan pada bulan terang dengan hasil tangkapan yang berbeda sangat nyata sehingga terdapat interaksi dalam faktor bulan. Oleh karena itu, menyebabkan kenaikan jumlah hasil tangkapan yang sangat signifikan atau lampu dapat dikatakan berpengaruh terhadap hasil tangkapan sehingga terdapat interaksi pada penggunaan lampu terhadap hasil tangkapan.
Kata kunci : sero, lampu, fase bulan, hasil tangkapan.
1) Mahasiswa Perikanan PS PSP, email : ar3r3_tomoe@yahoo.co.id, CP : 08179517011
2) Staf Pengajar Jurusan Perikanan PS PSP
3) Staf Pengajar Jurusan Perikanan PS PSP
NANDA AGUNG PRATAMA K2C004178
ANALISA KELAYAKAN USAHA PENANGKAPAN
IKAN TUNA DENGAN ALAT TANGKAP LONG-LINE
DI PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA (PPS) CILACAP
Nanda Agung Pratama*), Azis Nur Bambang**) dan Herry Boesono **).
e-mail : nando_dextern@yahoo.co.id
ABSTRAK
Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap merupakan Pelabuhan Perikanan yang terbesar di pulau Jawa, mengingat Kabupaten Cilacap sebagai penghasil udang dan ikan tuna yang terbanyak di selatan Pulau Jawa Tengah.. Ikan tuna adalah salah satu komoditas hasil perikanan laut unggulan di Cilacap. Usaha penangkapan ikan tuna dilakukan nelayan dengan menggunakan alat tangkap Longline di sekitar samudera Hindia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek teknis dari alat tangkap Longline, serta aspek ekonomi yang mengkaji tentang permodalan, pembiayaan, penerimaan dan menganalisa kelayakan usaha penangkapan ikan tuna dengan alat tangkap Longline. Materi yang menjadi objek penelitian ini adalah kegiatan usaha penangkapan ikan tuna dengan alat tangkap Long line di Cilacap. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode deskriptif yang bersifat studi kasus. Dan pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara dan studi pustaka. Hasil dari penelitian ini adalah usaha penangkapan Long line pada ukuran kapal 21-30 GT, modal rata-ratanya adalah sebesar Rp. 645.641.467; rata-rata biaya tetap sebesar Rp. 24.617.293; rata-rata biaya tidak tetap sebesar Rp. 762.448.066; modal rata-rata penerimaan sebesar Rp. 1.113.969.385; rata-rata NPV-nya sebesar Rp. 516.035.816,36; rata-rata nilai IRR sebesar 25,94%; rata-rata B/C ratio sebesar 1,76; dan rata-rata PP sebesar 4,47 tahun. Sedangkan pada ukuran kapal 31-50 GT, rata-rata modalnya adalah sebesar Rp. 786.976.570; rata-rata biaya tetap sebesar Rp. 27.248.153; rata-rata biaya tidak tetap sebesar Rp. 834.015.503; rata-rata penerimaan sebesar Rp. 1.232.868.758; rata-rata NPV-nya sebesar Rp. Rp 570.530.049,51; rata-rata nilai IRR sebesar 25,018%; rata-rata B/C ratio sebesar 1,703; dan rata-rata PP sebesar 4,61 tahun.
Kata Kunci : Kelayakan usaha, penangkapan, ikan tuna, Long line, Cilacap
ABSTRACT
Cilacap fishing port is one of the biggest fishing port in Java., known that Cilacap is the most produce shrimp and tuna in Central Java. Tuna is one of the important fisery commodity in Cilacap. Tunas fishery is operated by fisherman using Longline at Hindia Ocean. This research was aimed to known the technically of Longline, economical which learn about the capital, cost, benefit and to analyse financial feasibility of tunas fishery. The material object of this reasech is tunas catching effort that mainly using Longline in Cilacap. The method that used in this reaserch is descriptive method which character is about case study. Data were collected by observation, interview, and literature. The result of this research is, at 21-30 GT vessel this effort has capital about Rp.645.641.467; fixed cost about Rp. 24.617.293; operational cost about Rp. 762.448.066; benefit about Rp. 1.113.969.385; NPV about Rp. 516.035.816,36; IRR about 25,94%; B/C ratio about 1,76; and PP about 4,47 years. While at 31-50 GT vessel, has capital abaout Rp.789.967.570; fixed cost about Rp. 27.248.153; operational cost about Rp. 834.015.503; benefit about Rp. 1.232.868.758; NPV about Rp. 570.530.049,51; IRR about 25,018%; B/C ratio about 1,703; and PP about 4,61 years.
Key Word : Feasibility study, catching, Tuna, Longline, Cilacap
*) Mahasiswa PSP FPIK UNDIP, **) Staf Pengajar PSP FPIK UNDIP
IKAN TUNA DENGAN ALAT TANGKAP LONG-LINE
DI PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA (PPS) CILACAP
Nanda Agung Pratama*), Azis Nur Bambang**) dan Herry Boesono **).
e-mail : nando_dextern@yahoo.co.id
ABSTRAK
Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap merupakan Pelabuhan Perikanan yang terbesar di pulau Jawa, mengingat Kabupaten Cilacap sebagai penghasil udang dan ikan tuna yang terbanyak di selatan Pulau Jawa Tengah.. Ikan tuna adalah salah satu komoditas hasil perikanan laut unggulan di Cilacap. Usaha penangkapan ikan tuna dilakukan nelayan dengan menggunakan alat tangkap Longline di sekitar samudera Hindia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek teknis dari alat tangkap Longline, serta aspek ekonomi yang mengkaji tentang permodalan, pembiayaan, penerimaan dan menganalisa kelayakan usaha penangkapan ikan tuna dengan alat tangkap Longline. Materi yang menjadi objek penelitian ini adalah kegiatan usaha penangkapan ikan tuna dengan alat tangkap Long line di Cilacap. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode deskriptif yang bersifat studi kasus. Dan pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara dan studi pustaka. Hasil dari penelitian ini adalah usaha penangkapan Long line pada ukuran kapal 21-30 GT, modal rata-ratanya adalah sebesar Rp. 645.641.467; rata-rata biaya tetap sebesar Rp. 24.617.293; rata-rata biaya tidak tetap sebesar Rp. 762.448.066; modal rata-rata penerimaan sebesar Rp. 1.113.969.385; rata-rata NPV-nya sebesar Rp. 516.035.816,36; rata-rata nilai IRR sebesar 25,94%; rata-rata B/C ratio sebesar 1,76; dan rata-rata PP sebesar 4,47 tahun. Sedangkan pada ukuran kapal 31-50 GT, rata-rata modalnya adalah sebesar Rp. 786.976.570; rata-rata biaya tetap sebesar Rp. 27.248.153; rata-rata biaya tidak tetap sebesar Rp. 834.015.503; rata-rata penerimaan sebesar Rp. 1.232.868.758; rata-rata NPV-nya sebesar Rp. Rp 570.530.049,51; rata-rata nilai IRR sebesar 25,018%; rata-rata B/C ratio sebesar 1,703; dan rata-rata PP sebesar 4,61 tahun.
Kata Kunci : Kelayakan usaha, penangkapan, ikan tuna, Long line, Cilacap
ABSTRACT
Cilacap fishing port is one of the biggest fishing port in Java., known that Cilacap is the most produce shrimp and tuna in Central Java. Tuna is one of the important fisery commodity in Cilacap. Tunas fishery is operated by fisherman using Longline at Hindia Ocean. This research was aimed to known the technically of Longline, economical which learn about the capital, cost, benefit and to analyse financial feasibility of tunas fishery. The material object of this reasech is tunas catching effort that mainly using Longline in Cilacap. The method that used in this reaserch is descriptive method which character is about case study. Data were collected by observation, interview, and literature. The result of this research is, at 21-30 GT vessel this effort has capital about Rp.645.641.467; fixed cost about Rp. 24.617.293; operational cost about Rp. 762.448.066; benefit about Rp. 1.113.969.385; NPV about Rp. 516.035.816,36; IRR about 25,94%; B/C ratio about 1,76; and PP about 4,47 years. While at 31-50 GT vessel, has capital abaout Rp.789.967.570; fixed cost about Rp. 27.248.153; operational cost about Rp. 834.015.503; benefit about Rp. 1.232.868.758; NPV about Rp. 570.530.049,51; IRR about 25,018%; B/C ratio about 1,703; and PP about 4,61 years.
Key Word : Feasibility study, catching, Tuna, Longline, Cilacap
*) Mahasiswa PSP FPIK UNDIP, **) Staf Pengajar PSP FPIK UNDIP
Langganan:
Postingan (Atom)
